Pengertian HIV
HIV merupakan singkatan dari 'Human Immunodeficiency Virus'. HIV adalah suatu
virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan
menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam
melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan
menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.
Atau HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh
manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages– komponen-komponen utama
sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi
virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang
terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.
Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi
menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit-penyakit. Orang yang
kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap
berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak
mengalami defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan
defisiensi kekebalan yang parah dikenal sebagai "infeksi
oportunistik" karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem
kekebalan tubuh yang melemah.
Pengertian AIDS
Definisi AIDS adalah singkatan dari 'Acquired Immunodeficiency Syndrome / Acquired
Immune Deficiency Syndrome' yang menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang
terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah ditahbiskan
sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi
tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.
Seberapa cepat HIV bisa berkembang menjadi AIDS ?
Lamanya dapat bervariasi dari satu individu dengan individu yang lain. Dengan
gaya hidup sehat, jarak waktu antara infeksi HIV dan menjadi sakit karena AIDS
dapat berkisar antara 10-15 tahun, kadang-kadang bahkan lebih lama. Terapi
antiretroviral dapat memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah
virus (viral load) dalam tubuh yang terinfeksi.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai definisi atau pengertian HIV AIDS
yang dikutip dari situs aidsindonesia.or.id. Baca artikel terkait lainnya
tentang:
- Penyebab HIV AIDS
- Gejala HIV AIDS
- Cara Mencegah Penularan HIV AIDS
DEFINISI
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu
sekumpulan gejala yang didapatkan dari penurunan kekebalan tubuh akibat
kerusakan system imun yang disebabkan oleh infeksi HIV.
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang
menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya
sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah
putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka
ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya
melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski
terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak
langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama
bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif
yang mematikan.
PREVALENSI
Penyakit ini sudah lama ada hanya saja belum disadari oleh para ilmuwan
bahwa kasus–kasus yang ditemukan adalah kasus AIDS. Baru pada tahun 1981
Amerika Serikat melaporkan kasus–kasus penyakit infeksi yang jarang terjadi
ditemukan dikalangan homoseksual, yang kemudian dirumuskan sebagai penyakit Gay
Related Immune Deficiency (GRID), yakni penurunan kekebalan tubuh yang
dihubungkan dengan kaum gay/homoseksual.
Kemudian pada tahun 1982, CD–USA (Centers for Disease Control) Amerika
Serikat untuk pertama kali membuat definisi AIDS. Sejak saat itulah survailans
AIDS dimulai. Dan juga ditemukan penyebab kelainan ini adalah LAV
(Lymphadenophaty Associaterd Virus ) oleh Luc Montagnier dari pasteur Institut,
Paris.
Pada tahun 1984 Gallo dan kawan–kawan dari National Institute of Health,
Bethesda, Amerika Serikat menemukan HTLV III ( Human T Lymphotropic Virus type
III) sebagai sebab kelainan ini.
Pada tahun 1985 ditemukan Antigen untuk melakukan tes ELISA, suatu tes untuk
mengetahui terinfeksi virus itu atau tidaknya seseorang.
Pada tahun 1986, International Commintte on Taxonomi of Viruses, memutuskan
nama penyebab penyakit AIDS adalah HIV sebagai pengganti nama LAV dan HTLV III.
15 April 1987, Kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan. Seorang
wisatawan berusia 44 tahun asal Belanda, Edward Hop, meninggal di Rumah Sakit
Sanglah, Bali. Kematian lelaki asing itu disebabkan AIDS. Hingga akhir 1987,
ada enam orang yang didiagnosis HIV positif, dua di antara mereka mengidap
AIDS.
Sejak ditemukan tahun 1978, secara kumulatif jumlah kasus AIDS di Indonesia
sampai dengan 30 September 2009 sebanyak 18.442 kasus. jumlah ini semakin
meningkat dari tahun ke tahun.
Data Kementerian Kesehatan akhir 2009 menyebutkan
penderita AIDS kelompok umur 20-29 tahun di Indonesia mencapai 49,07 persen.
Berikutnya kelompok umur 30-39 tahun dengan 30,14 persen. Berdasarkan jenis
kelamin 14720 kasus atau 73,7 persen diderita pria dan 5163 kasus adalah
perempuan. Berdasarkan cara penularan, kasus AIDS kumulatif tertinggi melalui
hubungan heteroseksual (50,3 persen), pengguna napza suntik/ penasun (40,2
persen), dan hubungan homoseksual (3,3 persen).Jumlah kasus AIDS kumulatif
19.973 kasus yang tersebar di 32 Provinsi di Indonesia. Penderita HIV positif
terbanyak berada di DKI Jakarta dari Propinsi DKI Jakarta (7766), disusul Jawa
Timur (4553), Jawa Barat (3077), Sumatera Utara (2783), dan Kalimantan Barat
(1914).
Pada tahun 2014 diproyeksikan jumlah infeksi baru HIV usia 15-49 tahun
sebesar 79.200 dan proyeksi untuk ODHA usia 15-49 tahun sebesar 501.400 kasus.
Demikian laporan triwulan ketiga tahun 2009 Surveilans AIDS Ditjen Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP &PL) Depkes.
CARA PENULARAN
Penularan AIDS dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
a. Secara Kontak Seksual
1. Ano-Genital
Cara hubungan seksual ini merupakan perilaku seksual dengan resiko tertinggi
bagi penularan HIV, khususnya bagi kaum mitra seksual yang pasif menerima
ejakulasi semen dari pengidap HIV.
2. Ora-Genital
Cara hubungan ini merupakan tingkat resiko kedua, termasuk menelan semen
dari mitra seksual pengidap HIV.
3. Genito-Genital / Heteroseksual
Penularan secara heteroseksual ini merupakan tingkat penularan ketiga,
hubungan suami istri yang mengidap HIV, resiko penularannya, berbeda-beda
antara satu peneliti dengan peneliti lainnya.
b. Secara Non seksual
Penularan secara non seksual ini dapat terjadi melalui :
1. Transmisi Parental
Penggunaan jarum dan alat tusuk lain (alat tindik, tatto) yang telah
terkontaminasi, terutama pada penyalahgunaan narkotik dengan mempergunakan
jarum suntik yang telah tercemar secara bersama-sama. Penularan parental
lainnya, melalui transfusi darah atau pemakai produk dari donor dengan HIV
positif, mengandung resiko yang sangat tinggi.
2. Transmisi Transplasental
Transmisi ini adalah penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak,
mempunyai resiko sebesar 50%. Disamping cara penularan yang telah disebutkan di
atas ada transmisi yang belum terbukti, antara lain:
1. ASI
2. Saliva/Air liur
3. Air mata
4. Hubungan sosial dengan orang serumah
5. Gigitan serangga
Walaupun cara-cara transmisi di atas belum terbukti, akan tetapi karena
prevalensi HIV telah demikian tinginya di Amerika Serikat, maka tetap
dianjurkan :
1. Ibu yang mengidap supaya tidak menyusui bayinya.
2. Mengurangi kontaminasi saliva pada alat seduditasi pada saat berciuman
dan pada anak-anak yang mengidap HIV yang menderita gangguan jiwa dan sering
digigit serangga.
3. bagi dokter ahli mata dianjurkan untuk lebih berhati-hati berhubungan
dengan air mata pengidap HIV.
Perlu diketahui AIDS tidak menular karena :
1. Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak mengadakan hubungan
seksual )
2. Bersentuhan dengan penderita.
3. Berjabat tangan.
4. Penderita AIDS bersin atau balik di dekat kita.
5. Bersentuhan dengan pakaian atau barang lain dari bekas penderita.
6. Berciuman pipi dengan penderita.
7. Melalui alat makan dan minum.
8. Gigitan nyamuk dan serangga lainnya.
9. Bersama-sama berenang di kolam.
TAHAPAN INFEKSI HIV
Masa Inkubasi penyakit ini belum diketahui secara pasti. Dalam beberapa
literatur di katakan bahwa melalui transfusi darah masa inkubasi kira-kira 4,5
tahun, sedangkan pada penderita homoseksual 2 -5 tahun, pada anak- anak rata –
rata 21 bulan dan pada orang dewasa 60 bulan.
Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala
AIDS:
Tahap 1: Periode Jendela
- HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam
darah
- Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
- Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu – 6 bulan
Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
- HIV berkembang biak dalam tubuh
- Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk
antibody terhadap HIV
-Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya
(rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)
Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
- Sistem kekebalan tubuh semakin turun
- Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar
limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
- Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya
Tahap 4: AIDS
- Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
- berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah
GEJALA
Terdapat 5 stadium penyakit AIDS, yaitu
1. Gejala awal stadium infeksi yaitu :
Demam
Kelemahan
Nyeri sendi menyerupai influenza/
Nyeri tenggorok
Pembesaran kelenjaran getah bening
2. Stadium tanpa gejala
Stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat merupakan sumber
penularan infeksi HIV.
3. Gejala stadium ARC
Demam lebih dari 38°C secara berkala atau terus
��
Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan
��
Pembesaran kelenjar getah bening
��
Diare mencret yang berkala atau terus menerus dalam waktu yang lama tanpa
sebab yang jelas
��
Kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik
��
Keringat malam
��
4. Gejala AIDS
Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut
�� Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler)
juga adanya kanker kelenjar getah bening.
Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia,
�� pneumocystis,TBC, serta penyakit infeksi lainnya
seperti teksoplasmosis dsb.
5. Gejala gangguan susunan saraf
Lupa ingatan
��
Kesadaran menurun
��
Perubahan Kepribadian
��
Gejala–gejala peradangan otak atau selaput otak
��
Kelumpuhan
��
Umumnya penderita AIDS sangat kurus, sangat lemah dan menderita infeksi.
Penderita AIDS selalu meninggal pada waktu singkat (rata-rata 1-2 tahun) akan
tetapi beberapa penderita dapat hidup sampai 3 atau 4 tahun.
PENCEGAHAN
Upaya pencegahan yang dapat di lakukan adalah :
1. Pencegahan penularan melalui jalur non seksual :
a. Transfusi darah cara ini dapat dicegah dengan mengadakan pemeriksaan
donor darah sehingga darah yang bebas HIV saja yang ditransfusikan.
b. Penularan AIDS melalui jarum suntik oleh dokter paramedis dapat dicegah
dengan upaya sterilisasi yang baku atau menggunakan jarum suntik sekali pakai.
2. Pencegahan penularan melalui jalur seksual
Pencegahan ini dapat dilakukan dengan pendidikan/penyuluhan yang intensif
yang ditujukan pada perubahan cara hidup dan perilaku seksual, serta bahayanya
AIDS pada usia remaja sampai usia tua. Dan yang utama adalah dengan memperdalam
agama Islam yang benar, sehingga menjadi manusia yang bertaqwa menjalankan
perintah Allah serta menjauhi larangan Allah dengan ikhlas dan benar. Jika ini
terwujud, maka manusia kan selamat dunia akhirat, tidak hanya terhindar dari
penyakit AIDS ini akan tetapi mendapatkan kebaikan yang lebih besar daripada
itu …
Grafik Jumlah Kasus
HIV-AIDS Berdasarkan Provinsi
Berdasarkan
kelompok umur, distribusi penderita HIV-AIDS di Indonesia dapat ditampilkan
pada tabel berikut :
Grafik Persentase Jumlah Kasus HIV-AIDS Berdasarkan Kelompok
Umur
KASUS HIV/AIDS ’PERTAMA’
Kejadian ini berawal pada musim panas di Amerika Serikat tahun 1981, ketika itu
untuk pertama kalinya oleh Centers for Disease Control and Prevention
dilaporkan bahwa ditemukannya suatu peristiwa yang tidak dapat dijelaskan
sebelumnya dimana ditemukan penyakit Pneumocystis Carinii Pneumonia (infeksi
paru-paru yang mematikan) yang mengenai 5 orang homosexual di Los Angeles,
kemudian berlanjut ditemukannnya ’penyakit’ Sarkoma Kaposi yang menyerang
sejumlah 26 orang homosexsual di New York dan Los Angeles. Beberapa bulan
kemudian penyakit tersebut ditemukan pada pengguna narkoba suntik, segera hal
itu juga menimpa para penerima transfusi darah.
Sesuai perkembangan pola epidemiologi penyakit ini, semakin jelaslah bahwa
penyebab proses penularan yang paling sering adalah melalui kontak sexual,
darah dan produk darah serta cairan tubuh lainnya.
Pada tahun 1983, ditemukan virus HIV pada penderita dan selanjutnya pada tahun
1984 HIV dinyatakan sebagai faktor penyebab terjadinya Aquired Immunodeficiency
Syndrom (AIDS).
ASAL-USUL VIRUS HIV
Penemuan kasus AIDS untuk pertama kalinya di Amerika Serikat pada tahun 1981,
ternyata hanya sedikit memberi informasi tentang sumber penyakit ini. Sekarang
sudah terbukti bahwa AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal dengan HIV. Jadi
untuk menemukan sumber AIDS kita perlu mencari asal-usul HIV.
HIV adalah bagian dari keluarga atau kelompok lentivirus. Lentivirus seperti
HIV dapat ditemukan dalam lingkup luas primata non-manusia. Lentivirus yang
lain, diketahui secara kolektif sebagai virus monyet yang dikenal dengan SIV
(Simian Immunodeficiency Virus). Dan sekarang secara umum diterima bahwa HIV
merupakan keturunan SIV.
Bagaimana HIV dapat menyeberang dari hewan ke manusia?
Telah lama diketahui secara pasti bahwa virus tertentu dapat menyeberang dari
hewan kepada manusia dan proses ini dikenal dengan zoonosis. Bagaimana proses
SIV menjadi HIV pada manusia?
(1) Teori Pemburu, merupakan teori yang paling banyak dianut. Di dalam teori
ini dijelaskan bahwa, SIVcpz dapat berpindah ke manusia, ketika seseorang
berburu simpanse kemudian membunuh serta memakan dagingnya. Terkadang virus
yang masuk bisa tetap sebagai SIV, atau dalam suatu kesempatan akan berubah
menjadi HIV.
(2) Teori Vaksin Polio, merupakan teori lain yang mengatakan bahwa HIV dapat
berpindah secara tidak sengaja karena kealpaan pihak medis, misalnya melalui
percobaan medis. Teori ini disebarluaskan secara baik dimana vaksin polio yang
memainkan peranan dalam perpindahan ini, karena vaksin tersebut dibuat dengan
menggunakan ginjal monyet.
(3) Teori Kontaminasi Jarum Suntik, merupakan lanjutan dari “Teori Pemburu”,
dimana pada tahun 1950 sudah digalakkan untuk memakai jarum suntik yang hanya
sekali pakai serta menerapkan penataan untuk mensterilkan peralatan medis,
tetapi ini memakan banyak anggaran sehingga terkadang, satu jarum digunakan
untuk beberapa orang tanpa disterilkan terlebih dahulu. Hal tersebut akan
mempercepat terkontaminasinya dengan berbagai macam infeksi.
(4) Teori Penjajahan, dasar pemikiran teori ini mengacu pada teori pemburu.
Pada akhir abad XIX hingga awal abad XX, sebagian besar negara Afrika mengalami
penjajahan. Seperti layaknya warga yang terjajah, rakyat Afrika diwajibkan
mengikuti kerja paksa, mereka ditempatkan dalam satu camp dimana sanitasinya
sangat buruk, kerja fisik diluar batas serta kebutuhan makanan tidak terjamin
bahkan tidak menutup kemungkinan mereka mendapatkan lauk berupa simpanse yang
sedang mengidap SIV.
(5) Teori Konspirasi. Beberapa orang mengatakan bahwa virus HIV adalah rekayasa
manusia. Dari survey yang dilakukan di Amerika Serikat, didapatkan hasil bahwa
sebagian besar responden berkulit hitam mempercayai bahwa virus HIV memang
diciptakan untuk memusnahkan sebagian besar orang berkulit hitam serta para
homoseksual. Beberapa bahkan meyakini bahwa virus HIV disebarkan di seluruh
dunia melalui program imunisasi campak maupun melalui uji coba program
vaksinasi Hepatitis B kepada kaum homosexsual.
Sejauh ini, masih belum ada satu teoripun yang mampu menjelaskan dengan
memuaskan bagaimana SIV pada binatang bisa menyeberang menjadi HIV pada
manusia.
Kapan perpindahan itu terjadi?
Perkembangan dunia kedokteran sejauh ini membuat kita mampu untuk mendeteksi
HIV pada darah atau cairan tubuh lainnya, bahkan kita juga sudah mampu
menentukan subtype virus HIV. Penelitian terhadap subtype virus HIV pada
kasus-kasus awal dapat memberi petunjuk dalam menentukan kapan HIV pertama kali
menyerang manusia dan perkembangan berikutnya.
Ada tiga kejadian yang dianggap sebagai infeksi HIV paling awal, yaitu:
1. Contoh plasma (cairan darah) yang diambil dari seorang pria dewasa yang
hidup di Republik Demokratik Kongo tahun1959.
2. HIV ditemukan pada contoh jaringan tubuh dari seorang pemuda Amerika–Afrika
yang meninggal dunia di St.Louis, AS, tahun 1969.
3. HIV ditemukan pada contoh jaringan tubuh dari seorang pelaut Norwegia yang
meninggal dunia sekitar tahun1976.
Analisis yang dilakukan pada tahun 1998 tentang contoh plasma dari 1959
mengesankan bahwa HIV-1 memasuki manusia sekitar 1940-an atau awal 1950-an,
lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.
Dimana virus HIV pertama kali muncul pada manusia?
Karena HIV berkembang dari satu jenis SIV yang ditemukan pada tipe simpanse di
Afrika Barat, banyak orang menganggap bahwa HIV pertama muncul pada manusia di
sana. Kemudian dianggap bahwa HIV menyebar dari Afrika ke seluruh dunia.
Kita mungkin tidak akan pernah tahu secara pasti
kapan dan dimana virus HIV muncul
pertama kali, tetapi yang jelas pada suatu waktu di pertengahan abad 20-an ini,
infeksi HIV pada manusia berkembang menjadi epidemi penyakit di seluruh dunia
yang saat ini lebih dikenal sebagai AIDS.
Apa penyebab epidemi ini menyebar secara tiba-tiba?
Dipercayai ada 3 proses yang mempermudah penularan sehingga menyebabkan
penyebaran secara luas :
Kemudahan transportasi, memegang peranan dalam penyebaran HIV disorot pada
kasus yang sekarang dikenal sebagai ’Patient Zero’. Patient Zero adalah seorang
pramugara pesawat terbang berkebangsaan Kanada dan bernama Gaetan Dugas yang
sering mengadakan perjalanan ke seluruh dunia. Analisis terhadap beberapa kasus
AIDS awal menunjukkan bahwa orang terinfeksi tersebut adalah orang yang
berhubungan seksual baik langsung maupun tidak langsung dengan pramugara ini.
Untuk lebih jelasnya bisa menonton film ”and the band played on”.
Industri darah. Ketika transfusi darah menjadi bagian yang rutin dalam praktek
kedokteran, permintaan kebutuhan akan darah juga semakin meningkat. Di beberapa
negara seperti Amerika, mereka yang bersedia menyumbangkan darahnya akan
dibayar, termasuk pengguna narkoba suntik. Pada awal epidemi, para dokter belum
menyadari akan mudahnya virus ini menyebar melalui donor darah tanpa screening
sebelumnya. Akibatnya, banyak dari mereka yang mendapat transfusi dari
seseorang yang terinfeksi HIV akan tertular HIV.
Penggunaan Narkoba. Meningkatnya ketersediaan heroin seiring dengan perang
Vietnam tahun 1970-an, mendorong pertumbuhan penggunaan narkoba suntik.
Bersamaan dengan hal tersebut, untuk menghemat biaya, pemakaian alat suntik
oleh para pecandu dilakukan secara bersama-sama, satu jarum dipakai oleh banyak
pecandu tanpa disterilkan terlebih dahulu. Ini merupakan jalan lain virus HIV
berpindah dari pengidap yang satu ke pengidap lainnya.
KENYATAAN DI NEGARA KITA
Rupaya era globalisasi saat ini menyebabkan dunia tampak semakin kecil, negara
tidak mempunyai batas-batas lagi. Perpindahan penduduk menjadi begitu mudah,
demikian juga dengan HIV, bisa berpindah dari satu negara ke negara lainnya
dengan leluasa hingga akhirnya sampai ke Indonesia. Kasus HIV/AIDS pertama di
Indonesia diidentifikasi di Bali pada seorang laki-laki asing yang kemudian
meninggal pada April 1987. Akan tetapi, penyebaran HIV di Indonesia meningkat
setelah tahun 1995. Hal ini dapat dilihat pada tes penapisan (screening) darah
donor yang positif HIV meningkat dari 3 per 100.000 kantong pada 1994 menjadi
16 per 100.000 kantong pada tahun 2000. Peningkatan 5 kali lebih tinggi dalam
waktu 6 tahun.
Pada tahun 2000 terjadi peningkatan penyebaran epidemi HIV secara nyata melalui
pekerja seks. Data dari Tanjung Balai Karimui Merauke, Propinsi Irian Jaya
prevalensi HIV pada pekerja seks amat tinggi yaitu 26,5% sedangkan di Propinsi
Jawa Barat 5,5% dan di DKI Jakarta 3,36%.
Sejak tahun 1999 terjadi fenomena baru penyebaran HIV/AIDS yaitu infeksi HIV
mulai terlihat pada para pengguna Narkoba suntik. Penularan pada kelompok ini
terjadi secara cepat karena penggunaan jarum suntik bersama. Sebagai contoh,
pada tahun 1999 hanya 18% pengguna narkoba suntik yang dirawat di Rumah Sakit
Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta yang terinfeksi HIV. Akan tetapi pada tahun
2000 angka tersebut meningkat dengan cepat menjadi 40% dan pada tahun 2001
menjadi 48%.
Fakta baru pada 2002 menunjukkan bahwa penularan infeksi HIV juga telah meluas
ke rumah tangga. Di beberapa wilayah di Jakarta dilaporkan bahwa sekitar 3%
dari 500 ibu hamil yang dites secara sukarela dalam kegiatan VCT (Voluntary
Counseling and Testing) sudah terinfeksi HIV.
Jadi, semua jenis penularan HIV ada di negara kita dan sudah mengenai siapa
saja bahkan hingga ke ibu rumah tangga dan bayi yang dikandungnya.